Latar Belakang

Latar Belakang

Latar belakang berdirinya FlipMAS Indonesia.

Genap duapuluh tahun membantu mengembangkan program darma PPM di Ditlitabmas memberi banyak fakta belum bersinerginya kegiatan PPM antar Fakultas atau Program Studi di suatu PT, apalagi antar PT. Kalaupun sinergisme itu teridentifikasi lebih disebabkan karena program PPM yang mensyaratkannya. Jika masing-masing LPM PT diwajibkan membuat peta kerja PPM (sinergisme antar program PPM PT) di lingkungannya selama 3-5 tahun terakhir, maka peta termaksud tentu tidak mampu mengekspresikan: 1) sinergisme program; 2) keserasian dengan visi-misi LPM PT dan 3) Konvergensi manfaat. Kondisi semacam ini lebih banyak disebabkan karena PPM yang dilaksanakan PT merupakan inisiatif penuh tenaga pendidik. LPM PT tidak menatanya sesuai misi PPM yang sudah dimilikinya. Konsekuensinya, sinergisme PPM suatu PT dan juga antar PT, tidak ditemukan. Oleh karenanya, dampak sistemik kewilayahan tidak terasakan. Manfaat program akhirnya lebih bersifat kasuistik dan individual.

PPM akan memberi dampak signifikan bagi masyarakat internal PT, Pemda dan masyarakat jika dikerjakan secara terstruktur dan sistematis mengacu kepada persoalan, kebutuhan dan tantangan masyarakat. Untuk itu diperlukan adanya peta persoalan, kebutuhan atau tantangan di suatu wilayah tertentu (desa, kota, kabupaten atau propinsi) yang disusun bersama. Peta tersebut dapat dicek silangkan dengan data Pemerintah Daerah sebelum dijadikan acuan seluruh LPM PT di wilayah yang sama. LPM PT wilayah membahas jenis kepakaran dan jumlah pakar yang diperlukan untuk merespons peta persoalan dalam bentuk jenis program PPM. Selanjutnya, tawaran program disampaikan kepada seluruh tenaga pendidik yang menata kepakaran timnya masing-masing didukung penuh LPM PT wilayah.

Tingginya frekuensi pergaulan antara tenaga pendidik dan masyarakat eksternal PT membuka peluang terjadinya peningkatan kemampuan sintesis, pengayaan wawasan dan pemutakhiran ipteks di kedua belah pihak. Oleh karena itu, semakin banyak dana dan kegiatan PPM yang dilaksanakan di masyarakat, mendorong semakin membaiknya mutu pendidikan. Ki Hajar Dewantara menegaskan melalui petuahnya – ilmu tanpa praktek itu kosong, praktek tanpa ilmu itu kerdil -. Disamping itu, manfaat eksistensi PT di wilayah masing-masing melalui program PPM segera dirasakan masyarakatnya. Disadari atau tidak, untuk sementara waktu ini, hanya darma PPM yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Fakta adanya persaingan antar LPM PT di suatu wilayah dalam upaya membantu Ditlitabmas, Pemda atau Industri untuk memberi manfaat bagi masyarakat masih terbelenggu pada jumlah proposal yang dilaksanakan dan besarnya dana yang diterima. Disadari atau tidak, lemahnya komunikasi antar tenaga pendidik suatu PT dan antar LPM PT di satu wilayah berakibat pada tumpang tindihnya kegiatan PPM sekaligus beban bagi masyarakat secara psikologis dan fisik.